EMPAT hari telah berlalu sejak Festival Kutoarjo (Festiku) 2026 digelar. Namun gaungnya belum juga reda. Di berbagai kanal media sosial, foto dan video terus bermunculan — potongan-potongan suasana yang menegaskan satu hal: hajatan enam jam pada Minggu, 19 April 2026 itu terasa jauh lebih panjang dari durasinya.
Dari pukul 10.00 hingga 16.00, Gedung Pewayangan Kautaman, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, menjelma menjadi ruang temu yang riuh. Aroma kuliner khas Kutoarjo-Purworejo, deretan produk kreatif, hingga pertunjukan seni menyatu dalam satu lanskap yang padat, hangat, dan nyaris tanpa jeda.
Empat hari kemudian, suasana itu terbukti masih hidup. Berpindah ke linimasa, ke grup percakapan, hingga ke meja-meja makan para pengunjung yang membawa pulang aneka penganan sebagai oleh-oleh.
Festiku memang bukan sekadar acara tahunan. Sejak digagas Paguyuban Wong Thorjo (Pakutho) pada 2008 — bermula dari tradisi halal bihalal — ia telah menjelma menjadi ikon diaspora Wong Thorjo, terutama di Jabodetabek. Setiap usai Lebaran, agenda ini selalu dinanti. Bukan hanya sebagai ruang temu kangen, tetapi juga sebagai perayaan identitas.
Daya pikat itu terletak pada kemampuan Festiku memadukan tiga unsur sekaligus: silaturahmi, pemberdayaan ekonomi, dan pelestarian budaya.
Di satu sisi, tahun ini, 40 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dari 16 kecamatan di Kabupaten Purworejo hadir membawa produk unggulan mereka. Di sisi lain, panggung kesenian tak absen — dari kesenian Jaran Bolong hingga In10tion Band — menjadi penanda bahwa Festiku juga ruang “nguri-uri” kebudayaan.
Tema Go Digital, Go Global yang diusung tahun ini mempertegas arah geraknya. Di sela padatnya agenda, Pakutho meluncurkan website resmi (www.pakutho.com) sebagai etalase digital produk anggota. Saat yang sama, kerja sama dengan Forum UMKM Kabupaten Purworejo diteken, membuka jalan bagi pengembangan usaha yang lebih luas.
Transformasi sebagai Langkah Strategis
Bupati Purworejo, Yuli Hastuti, yang hadir bersama jajaran pejabat daerah, melihat transformasi itu sebagai langkah strategis.
“Festival ini adalah momentum penting untuk mengenalkan produk unggulan sekaligus memperkuat identitas budaya. Inisiatif digital dari Wong Thorjo adalah langkah konkret agar UMKM kita naik kelas,” ujarnya.
Antusiasme pengunjung menjadi bukti paling kasatmata. Dalam waktu yang terbatas, arus manusia memadati gedung. Antrean di sejumlah stan makanan mengular. Dawet ireng, kupat tahu, hingga berbagai jajanan khas ludes sebelum acara berakhir.
Ketua panitia, Teguh Suharmaji, mengakui lonjakan itu di luar perkiraan. “Peserta membludak. Tim registrasi sampai kewalahan,” katanya.
Sebagian pengunjung kemudian diizinkan masuk tanpa tiket. Alih-alih menjadi beban, situasi itu justru menggerakkan transaksi. Banyak pengunjung pulang dengan tas belanja besar — memborong produk UMKM dalam waktu singkat.
Ketua Pakutho, Pratomo Setyohadi, menyebut fenomena itu sebagai berkah. Ia melihat bagaimana pertemuan diaspora bisa langsung berdampak pada pelaku usaha dari kampung halaman.
Optimisme serupa datang dari Ketua Forum UMKM Kabupaten Purworejo, Hesti Respatiningsih. “Kami ingin UMKM tidak hanya berkembang di tingkat lokal, tetapi juga dikenal dan dipercaya di pasar yang lebih luas,” ujarnya.
Kerja Kolektif, Dukungan Banyak Pihak
Di balik kemeriahan itu, ada kerja kolektif yang panjang. Festiku bisa bertahan — meski sempat terhenti utamanya saat pandemi Covid-19 — karena dukungan banyak pihak. Panitia lintas generasi, donasi yang terus mengalir, hingga sponsor yang setia mendampingi.
Dukungan itu tak melulu berbentuk dana. Dalam Festiku 2026, sejumlah pihak menyumbang dalam bentuk natura: ratusan mangkuk bakso, ratusan tusuk sate, seribu gelas dawet ireng, hingga ratusan porsi kupat tahu. Kontribusi yang bukan hanya membantu logistik, tetapi juga memperkaya pengalaman pengunjung.
Sejumlah sponsor tetap juga menjadi penopang penting. Nama-nama seperti PO Sumber Alam, PT Waruna, PT Caraka, hingga PT Oceanindo tercatat konsisten mendukung penyelenggaraan.
Di antara itu, PO Sumber Alam menempati posisi khusus. Sejak tahun 2010 — ketika perusahaan ini masih dipimpin Yudi Hambali hingga kini di era Anthony Steven Hambali — dukungan tak pernah putus. Armada bus rutin disediakan untuk mengangkut pelaku UMKM dan seniman dari Kutoarjo-Purworejo ke Jakarta. Bahkan, dalam satu kesempatan, belasan kepala desa turut diangkut dalam rombongan.
Sinergi semacam itu yang membuat Festiku terus bertahan dan berkembang.
Kekurangan dan Catatan untuk Evaluasi
Meski demikian, panitia tak menutup mata terhadap kekurangan. Stok makanan yang cepat habis, keterbatasan tempat duduk, hingga kepadatan pengunjung menjadi catatan evaluasi untuk penyelenggaraan berikutnya.
Namun bagi banyak orang, kekurangan itu tenggelam dalam kesan besar yang ditinggalkan. Empat hari setelah acara, euforia masih berdenyut — di layar ponsel, dalam percakapan, dan dalam ingatan.
Festiku 2026 menunjukkan bahwa dalam enam jam, sebuah pertemuan bisa melampaui fungsinya. Ia bukan hanya ruang temu, tetapi juga ruang gerak — yang menghubungkan kampung halaman dengan masa depan.
Ketua Pakutho, Pratomo Setyohadi, berharap semangat itu terus terjaga. Sinergi Wong Thorjo di perantauan, kata dia, harus terus dirawat dan ditingkatkan — sejalan dengan sesanti: Guyub Ing Paran lan Migunani Tumraping Liyan.
Panitia menutup rangkaian acara dengan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, sekaligus permohonan maaf atas berbagai kekurangan.
Sebuah penutup yang sederhana — namun cukup untuk merangkum kerja besar yang, bagi banyak orang, belum benar-benar selesai. “Karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT, Gusti Kang Murbeng Dumadi.” (*)



